Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul
Oleh: Adam Gusti M
Boven Digoel, sebuah wilayah di ujung timur Indonesia, menyimpan jejak sejarah penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan. Terletak di Tanah Merah, bagian dari pemekaran Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, daerah ini dulunya dijadikan lokasi pengasingan oleh pemerintah kolonial Belanda bagi tokoh-tokoh pergerakan nasional yang dianggap memberontak. Banyak tokoh penting perjuangan Indonesia pernah merasakan pengasingan di tempat ini, menjadikannya simbol perlawanan terhadap kolonialisme.
Sebagian besar penghuni kamp Digul merupakan aktivis politik yang dituduh terlibat dalam aksi melawan pemerintahan kolonial. Mereka bukan sekadar tahanan politik, melainkan lambang perlawanan yang teguh terhadap ketidakadilan. Kisah mereka dipenuhi penderitaan, kelaparan, dan isolasi, namun juga keteguhan hati dalam mempertahankan idealisme. Dari pengalaman para eks-Digulis ini, kita belajar makna keberanian dalam menghadapi penindasan dan kesetiaan pada cita-cita kemerdekaan.
Salah satu kisah yang menonjol adalah Thomas Nayoan, pemuda asal Minahasa yang nekat melarikan diri dari kamp Digul. Meski akhirnya gagal, usahanya mencerminkan semangat juang yang tak mudah padam. Ia menyeberangi sungai dengan perahu hingga mencapai Australia. Namun, karena adanya perjanjian ekstradisi antara Australia dan Belanda, ia akhirnya dikembalikan ke Digul. Thomas merupakan salah satu tokoh yang pernah terlibat dalam pemberontakan PKI di wilayah Banten.
Cerita lain datang dari Mohammad Bondan, aktivis PNI asal Cirebon, yang kisahnya diabadikan oleh sang istri, Molly Bondan, dalam buku Spanning a Revolution. Buku tersebut mengisahkan tekanan dan perlakuan kolonial Belanda terhadap para tahanan politik di Digul, termasuk upaya mengadu domba antar-tahanan untuk menciptakan konflik internal. Strategi itu kerap berhasil, membuat hubungan antar penghuni kamp menjadi penuh ketegangan dan perpecahan.
Kisah-kisah para penghuni Digul juga terdokumentasi dalam buku Cerita dari Digul, kumpulan tulisan para eks-Digulis yang pernah menjadi tahanan politik di tanah pembuangan tersebut. Buku ini disusun dan disunting oleh sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer. Berbagai cerita getir, mengharukan, dan nyata ini menggambarkan perjuangan mempertahankan hidup di tengah keterasingan. Dua karya di dalamnya, “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” dan “Minggat dari Digul”, memperlihatkan perkembangan bahasa Indonesia dalam konteks yang bukan bahasa ibu. Bahkan, “Pandu Anak Buangan” disebut sebagai satu-satunya karya sastra Indonesia bertema psikologis sebelum 1945. Lebih dari sekadar bacaan sejarah, buku ini memberi ruang refleksi tentang kemerdekaan dan martabat manusia dalam menghadapi penindasan.
