Kelas Menengah sebagai Pembentuk Peradaban
Oleh: Marco Ferdi Pratama
Peradaban manusia setiap saat silih berganti dari awal hingga akhir, tidak menentu juga bagaimana bisa peradaban manusia itu bisa dikatakan sebagai sebuah kemajuan atau kemunduran. Berbagai macam perspektif muncul dan memengaruhi pola pikir dalam memahami perkembangan dari peradaban. Masyarakat sendirilah penentu suatu peradaban mau dibawa ke arah mana. Masyarakat terbagi menjadi beragam kelas apabila didasarkan pada pertimbangan struktur dan post-struktur. Karena mana mungkin rakyat miskin bisa menentukan sebuah peradaban tanpa adanya revolusi, dan bagaimana mungkin sebuah peradaban bisa terbentuk dan bertahan oleh otoritarianisme penguasa. Kelas menengah yang berada di tengah-tengah pilihan revolusi atau otoritarianisme. Lantas siapakah pembentuk dari sebuah peradaban manusia? Berdasarkan Kamus Cambridge, kelas menengah didefiniskan sebagai kelompok sosial yang terdiri dari orang-orang berpendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan bagus dan tergolong tidak miskin, tetapi tidak terlalu kaya.
Kelas menengah umumnya didefinisikan sebagai kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan dan pendidikan di atas rata-rata, tetapi tidak termasuk dalam kategori elit atau kelas atas. Mereka sering kali terdiri dari profesional, pengusaha, dan pekerja terampil yang memiliki akses terhadap pendidikan dan sumber daya yang lebih baik. Kelas menengah berfungsi sebagai jembatan antara kelas bawah dan kelas atas, memainkan peran penting dalam stabilitas sosial dan ekonomi. Dalam teori Marx, kelas menengah dianggap tidak memiliki posisi yang jelas dalam pertarungan antara borjuis dan proletar. Kelas menengah cenderung beradaptasi dengan kepentingan borjuis ketika itu menguntungkan dan bisa beralih ke posisi proletar apabila situasi memaksa. Hal tersebut menciptakan ambiguitas dalam identitas kelas menengah. Namun sekali lagi seiring dengan perkembangan zaman dan pola perubahan ekonomi serta kehidupan yang sudah tidak di era Marx.
Pola pikir yang menempatkan kelas menengah tidak mampu mengubah struktur masyarakat secara signifikan seperti yang Marx katakan, kurang begitu kontekstual dengan masa kini dimana ambiguitas apabila dapat diakomodasi oleh suatu wadah yang tepat dalam membentuk suatu peradaban. Kelas menengah dianggap sebagai kelas yang "plin-plan" karena cenderung berubah posisi sesuai kepentingan. Jika kepentingan mereka lebih dekat dengan kelas kapitalis, mereka akan berpihak pada kapitalis; jika lebih mendekati proletariat, mereka akan mendekat pada kelas pekerja. Pada masanya, Marx tidak memberi perhatian khusus pada kelas menengah. Namun, seiring perkembangan waktu—bahkan setelah satu abad pemikiran Marx—kelas menengah tumbuh pesat. Awal abad ke-20 di Eropa, muncul berbagai teoritisi Marxisme baru yang fokus pada kelas menengah. Nicos Poulantzas memperkenalkan konsep new petty bourgeoisie (kelas menengah baru) yang dibedakan dari kelas pekerja berdasarkan metode pembayaran. Kelas pekerja menerima upah, sedangkan new petty bourgeoisie menerima bayaran berupa persentase keuntungan. Secara sederhana, pekerja white-collar merepresentasikan new petty bourgeoisie, sementara pekerja blue-collar merepresentasikan kelas pekerja. Berdasarkan kajian tersebut, untuk saat ini keberadaan kelas menengah berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan permintaan: dengan daya beli yang lebih tinggi, kelas menengah menciptakan permintaan untuk barang dan jasa, mendorong produksi dan inovasi. Mereka cenderung berinvestasi dalam pendidikan, properti, dan bisnis, yang pada gilirannya menciptakan lapangan kerja baru.
Banyak anggota kelas menengah yang menjadi wirausahawan, menciptakan usaha kecil dan menengah yang merupakan tulang punggung ekonomi di banyak negara. Keseharian masyarakat disuguhkan dengan narasi bahwa orang yang memiliki modal ialah orang yang mampu menggerakkan orang lain. Kelas menengah juga berperan dalam pembentukan budaya dan nilai-nilai sosial: akses yang lebih baik terhadap pendidikan memungkinkan anggota kelas menengah untuk mengembangkan pemikiran kritis dan inovatif. Mereka sering menjadi agen perubahan sosial yang memperjuangkan hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan keadilan sosial. Kelas menengah umumnya lebih terlibat dalam politik, baik sebagai pemilih maupun sebagai aktivis. Mereka sering mendorong reformasi kebijakan yang mendukung kesejahteraan masyarakat luas. Dengan kemampuan finansial untuk mengkonsumsi seni dan hiburan, kelas menengah berkontribusi pada perkembangan budaya populer yang mencerminkan nilai-nilai masyarakat. Kelas menengah saat ini menghadapi berbagai tantangan yang signifikan, terutama di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi yang cepat. Peran mereka sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial sangat penting, namun mereka juga rentan terhadap berbagai tekanan yang dapat mengancam keberlangsungan kelas ini. Kelas menengah menunjukkan ketahanan dalam menghadapi perubahan zaman, seperti pada masa revolusi industri, kelas menengah muncul sebagai kekuatan baru yang mendorong industrialisasi dan urbanisasi. Mereka beradaptasi dengan teknologi baru dan menciptakan peluang kerja.
Di era globalisasi, kelas menengah mampu memanfaatkan peluang internasional melalui perdagangan dan investasi global, memperkuat posisi mereka dalam perekonomian dunia. Ketidakpastian ekonomi, krisis ekonomi dapat mengancam stabilitas keuangan kelas menengah, mengurangi daya beli mereka. Dalam beberapa kasus, pertumbuhan kelas menengah dapat menyebabkan ketimpangan sosial jika tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan bagi kelas bawah. Otomatisasi dan digitalisasi dapat mengancam pekerjaan di sektor-sektor tertentu yang biasanya diisi oleh anggota kelas menengah. Kelas menengah memainkan peran krusial dalam pembentukan peradaban manusia melalui kontribusi ekonomi, sosial, dan budaya. Mereka adalah agen perubahan yang membantu mendorong kemajuan masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, keberadaan kelas menengah tetap vital untuk memastikan stabilitas dan pertumbuhan peradaban di masa depan. Secara keseluruhan, kelas menengah memainkan peran krusial dalam perekonomian melalui kontribusi terhadap konsumsi, pendapatan pajak, stabilitas ekonomi, inovasi, dan partisipasi politik. Memperkuat kelas menengah menjadi salah satu strategi penting bagi pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menghindari jebakan negara berpendapatan menengah. Oleh karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan kelas menengah sangat diperlukan agar mereka dapat terus berkontribusi secara optimal terhadap perekonomian nasional.
