Lima Gender Suku Bugis, Budaya yang Mulai Terlupakan

10/30/20242 min read

Oleh: Adam Gusti Mahesa

Saat mendengar tentang gender, kebanyakan orang mungkin hanya berpikir tentang laki-laki dan perempuan. Namun, di Sulawesi Selatan, tepatnya di kalangan Suku Bugis, ada pengakuan terhadap lima jenis gender yang berbeda. Tradisi ini telah berlangsung selama berabad-abad dan menjadi bagian integral dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bugis. Meskipun begitu, keberadaan gender non-biner di dalam suku ini kini kerap mengalami diskriminasi dan stigma, hingga terancam punah di masa depan.

Suku Bugis mengakui lima gender, yaitu makkunrai (perempuan), oroani (laki-laki), calalai (perempuan yang menjalankan peran laki-laki), calabai (laki-laki yang menjalankan peran perempuan), dan bissu, gender kelima yang dianggap perpaduan antara maskulinitas dan feminitas. Gender-gender ini bukan hanya sekadar identitas, tetapi memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bugis [1].

Di antara kelima gender tersebut, bissu menjadi sosok yang paling menarik perhatian. Mereka bukan hanya sekadar bagian dari spektrum gender, tetapi dianggap sebagai figur spiritual yang memiliki kemampuan menjadi perantara antara dunia manusia dan dunia roh. Bissu sangat dihormati dalam masyarakat Bugis karena dipercaya mampu memberikan berkah yang penting, seperti keberhasilan panen, kesehatan, dan pernikahan yang harmonis.

Meskipun demikian, gender non-biner seperti bissu, calalai, dan calabai mengalami banyak tantangan. Seiring perubahan sosial dan agama di Indonesia, terutama di abad ke-20, toleransi terhadap gender non-biner semakin berkurang. Peningkatan pengaruh agama dan konservatisme membawa banyak tekanan terhadap kelompok-kelompok ini. Dalam beberapa dekade terakhir, kelompok ekstremis yang ingin mengukuhkan nilai-nilai agama sering kali menargetkan dan menekan komunitas ini, membuat mereka terpaksa menyembunyikan identitas atau bahkan meninggalkan peran tradisional mereka [2].

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi bissu adalah hilangnya minat generasi muda terhadap tradisi mereka. Selain itu, stigma sosial juga membuat banyak orang enggan menjalani kehidupan sebagai bissu. Dengan demikian, banyak pihak khawatir bahwa di masa depan, bissu bisa saja punah. Ini bukan hanya mengancam hilangnya peran spiritual dalam masyarakat, tetapi juga mengancam keberagaman budaya Bugis yang telah bertahan selama berabad-abad.

Namun, meski tantangan ini besar, harapan untuk melestarikan tradisi gender Bugis tetap ada. Beberapa orang berusaha mencari cara untuk menghidupkan kembali peran-peran tradisional ini dengan memberi mereka ruang baru di masyarakat modern. Misalnya, beberapa individu dari gender non-biner Bugis kini mulai terlibat dalam kegiatan sosial yang lebih diterima oleh masyarakat, seperti perencana pernikahan atau penyedia jasa kecantikan. Ini adalah upaya untuk menjaga identitas mereka tetap hidup, sekaligus memberikan kontribusi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari [3].

Dengan keunikan dan nilai sejarah yang luar biasa, keberadaan lima gender dalam budaya Bugis adalah bukti bahwa keragaman gender sudah ada sejak lama di nusantara. Mungkin baik bagi kita untuk merawat dan melestarikan warisan budaya ini, karena hal tersebut tidak hanya memperkaya identitas bangsa, tetapi juga mengajarkan tentang inklusivitas dan penghargaan terhadap perbedaan. Daripada terus memperkuat stigma dan diskriminasi.

[1] Nurhayati Rahman, "Keberadaan Bissu dalam Masyarakat Bugis dan Perannya di Masa Kini," Jurnal Antropologi Indonesia, vol. 32, no. 3, 2008.

[2] Sahabuddin, "Eksistensi Gender Nonbiner dalam Tradisi Bugis: Studi Kasus tentang Bissu, Calabai, dan Calalai," Jurnal Sosial Humaniora, vol. 15, no. 2, 2013.

[3] Halilintar Lathief, "Revitalisasi Peran Bissu dalam Budaya Bugis Modern," Jurnal Kebudayaan Nusantara, vol. 10, no. 2, 2017.