Memaknai "Ketertinggalan" pada Masyarakat Muslim Kita

11/3/20241 min read

Oleh: Ramadhan HS

Berawal dari sebuah refleksi yang memantik dengan kalimat, "Mampukah masyarakat Muslim modern memaknai dan merespon ketertinggalan?" menarik untuk diajukan sebagai analisis singkat mengenai perkembangan politik kontemporer masyarakat Muslim dewasa ini. Sebagaimana kita ketahui bersama, kawasan dunia Islam yang persebarannya meliputi Timur Tengah, Afrika, dan sebagian Asia, Eropa, serta Amerika Utara menjadi pembahasan menarik. Perspektif politik di kalangan umat Islam adalah urusan publik yang melibatkan daya partisipasi publik secara partisipan dan pemikiran. Pemikiran umat Islam dewasa ini tak terlepas dari perkembangan sejarah atas respon yang berkembang mengenai politik, terutama di Timur Tengah abad ke-20.

Mohammad Abed al-Jabiri, pemikir Arab kontemporer, mempunyai klasifikasi menarik mengenai sikap dan respon masyarakat Muslim (khususnya Arab-Islam) terhadap tradisi intelektual. Dalam salah satu dari tiga klasifikasi nalar Arabnya, metode transformatif yang mengutamakan pemikiran Orientalis yang berpusat pada perspektif Eropa (Eurosentris) berdampak pada keterasingan serta sikap rendah diri masyarakat Muslim secara umum. Dampak ini penting untuk diketengahkan karena pasca berakhirnya Perang Dunia II dan beberapa dinamika geopolitik Timur Tengah (terutama pasca Nakba 1948) belum ada daya tawar yang konfrontatif dalam diskursus keilmuan berhadapan langsung dengan hegemoni intelektual Barat. Proyeksi dekolonisasi pemikiran di kalangan masyarakat dunia Muslim, misalnya, harus mampu membangkitkan kesadaran sejarah masyarakat Muslim untuk menandingi kapasitas intelektual Barat yang mendikotomi "antara aku dan liyan."

Sejak pasca era Pencerahan (Renaissance), peradaban Eropa tidak henti-hentinya melakukan penerjemahan dan menerapkan ilmu-ilmu yang sudah mapan pada era "Golden Age of Islam," yang menjadi cikal bakal serta representasi atas dominasi peradaban Islam dalam ranah keilmuan saintifik. Sejak reinterpretasi serta rekonstruksi teori-teori eksakta yang dibangun berbagai ilmuwan Muslim, Eropa melakukan terobosan berani tersebut sehingga terobosan tersebut diajukan sebagai klaim Eropa atas keberhasilan mereka dalam mengembangkan taraf ilmu pengetahuan.

Menurut al-Jabiri, sudah seharusnya umat Muslim percaya diri atas beragamnya entitas perkembangan keilmuan, baik yang bersifat saintifik maupun sosial-kemanusiaan, yang telah dibangun oleh para pemikir dan saintis di abad pertengahan. Dengan demikian, "Golden Age of Islam" bukan sekadar menjadi slogan, melainkan bagian dari spirit kebangkitan Islam (an-Nahdha) dalam konteks keilmuan dan intelektualisme. Narasi ini harus dimanfaatkan betul oleh segenap umat; tidak perlu lagi berpikir dalam kerangka ideologis dalam rangka pertukaran metode keilmuan yang bertujuan untuk memajukan peradaban Islam dewasa ini. Sudah seharusnya Barat bukan lagi dianggap sebagai entitas "menakutkan" dan "musuh bayangan" tanpa disertai dengan usaha mempelajari dan mengembangkan ulang apa yang sudah diwariskan seribu tahun lalu.

Referensi:

1. Islam, Otoritarianisme dan Ketertinggalan. Ahmet. T. Kuru, 2020

2. Kritik Nalar Arab Mohammed al Jabiri. Abdul Mukti Rouf, 2018