Mengapa TikTok Mempengaruhi Kehidupan Kita

1/3/20251 min read

Oleh: Ramadhan HS

TikTok telah menjadi salah satu media sosial paling populer di era digital ini. Dengan jutaan pengguna aktif, platform ini menawarkan berbagai macam konten yang sesuai dengan preferensi setiap individu, berkat algoritmanya yang canggih. Namun, di balik semua hiburan yang disediakan, TikTok juga menghadirkan tantangan besar bagi cara kita berpikir, merasa, dan bertindak.

Di era pasca-kebenaran (post-truth), TikTok tidak hanya menjadi platform hiburan, tetapi juga membentuk cara pandang generasi Z dan generasi Alpha terhadap berbagai isu, mulai dari sosial-politik, ekonomi, gaya hidup, hingga percintaan. Sayangnya, banyak pengguna cenderung menerima begitu saja apa yang mereka lihat tanpa mempertanyakan kebenarannya. Akibatnya, TikTok bisa dianggap seperti "tuhan baru" atau "berhala modern" yang mengarahkan perilaku dan keyakinan kita.

Fenomena ini mencerminkan kritik filsuf Nietzsche yang mengatakan, "Tuhan telah mati, kitalah yang membunuhnya." Nietzsche mengingatkan bahwa manusia sering menggantikan kepercayaan pada Tuhan dengan keyakinan pada hal-hal temporal atau sementara, seperti media sosial saat ini. Pengguna TikTok sering kali terjebak dalam pseudo-right, yaitu "kebenaran palsu" yang disajikan oleh figur-figur publik musiman. Mereka ini, yang sering kali berbicara tanpa dasar ilmiah yang jelas, berlomba-lomba memengaruhi orang lain dengan opini yang terlihat benar, tetapi sebenarnya tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Krisis ini semakin nyata ketika banyak orang mulai kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Mereka menerima informasi begitu saja, bahkan ketika informasi tersebut bertentangan dengan fakta. TikTok, dengan algoritmanya yang menyesuaikan konten berdasarkan preferensi pengguna, sering kali memperkuat pandangan tertentu tanpa memberikan ruang untuk sudut pandang lain. Akibatnya, kita hidup dalam gelembung homogen yang membosankan dan membahayakan keberagaman pemikiran.

Hal ini menjadi tugas berat bagi para pendidik, seperti guru dan dosen, untuk mengajarkan etika dalam menggunakan media sosial. Di era yang serba cepat ini, di mana dunia seolah berada di genggaman tangan kita, penting bagi kita untuk bersikap lebih kritis terhadap informasi yang kita konsumsi. Kita harus mampu memilah antara hiburan dan kebenaran, serta mempertimbangkan dampak dari apa yang kita percayai dan bagikan.

Mengutip Nietzsche, manusia perlu melampaui pseudo-spiritualisme—keyakinan pada hal-hal kecil yang mengalahkan hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa. Dengan sikap kritis dan kesadaran, kita dapat mengembalikan fungsi media sosial sebagai alat untuk mendukung kreativitas dan pertukaran informasi, bukan sebagai "berhala modern" yang menguasai hidup kita.

TikTok, seperti media sosial lainnya, hanyalah alat. Bagaimana kita menggunakannya akan menentukan apakah ia menjadi sumber kebaikan atau keburukan dalam hidup kita.

Referensi:

Gaya Filsafat Nietzsche, Augustinus Setyo Wibowo, 2018, Kanisius