Mitos-Mitos tentang Anarkisme dan Realitasnya
Oleh: Adam Gusti M
Tahun 2020 sempat geger dengan berita ditangkapnya Ketua Anarko Sindikalis Indonesia oleh polisi. Netizen langsung ramai membahas, bingung bagaimana mungkin gerakan yang menolak hirarki seperti anarkisme bisa punya ketua. Fenomena ini menunjukkan bahwa masih banyak orang belum paham apa itu anarkisme. Di benak banyak orang, anarkisme selalu dikaitkan dengan hal-hal negatif seperti kekacauan, kekerasan, dan sifat brutal. Bahkan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anarkisme didefinisikan sebagai ajaran yang menentang kekuasaan negara, tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang. Gak heran kalau banyak yang salah paham.
Tapi, sebenarnya anarkisme itu apa sih? Apakah benar anarkisme selalu identik dengan kekacauan dan kekerasan? Untuk menjawab itu, kita bisa mengintip pandangan Alexander Berkman dalam bukunya yang berjudul “What is Communism Anarchism?” (1929). Menurut Berkman, anarkisme bukanlah soal bom, kekacauan, atau perang melawan semua orang. Anarkisme justru menekankan kebebasan sejati, di mana gak ada seorang pun yang boleh memperbudak, merampok, atau memaksa orang lain [1].
Mitos tentang anarkisme yang brutal dan kacau sudah menyebar luas, mungkin karena seringkali dalam aksi protes atau demo, simbol-simbol anarkisme muncul dan disalahartikan. Padahal, seperti yang dijelaskan Berkman, anarkisme itu soal membebaskan manusia dari hirarki kekuasaan yang menindas. Jadi, anarkisme bukan tentang hancur-hancuran atau merusak, tapi tentang menciptakan masyarakat yang adil tanpa tirani.
Pierre-Joseph Proudhon, salah satu tokoh anarkisme, punya slogan yang cukup mengguncang: "La propriete, c’est le vol!" yang artinya "Hak milik adalah curian!". Ini juga sering disalahpahami. Banyak yang mengira anarkisme mengajarkan kita untuk tidak menghormati milik orang lain, padahal maksudnya lebih dalam. Proudhon ingin menyoroti ketidakadilan kapitalisme, di mana para pekerja sering kali tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka peroleh dari hasil kerjanya, sementara para pemilik modal semakin kaya [2].
Anarkisme sebenarnya sangat menolak sistem di mana segelintir orang punya kekuasaan besar untuk mengatur hidup orang lain. Bagi para anarkis, sistem seperti itu hanya akan melanggengkan ketidakadilan dan penindasan. Mereka percaya pada kebebasan dan kesetaraan, di mana semua orang punya hak yang sama untuk menentukan hidupnya tanpa ditindas oleh aturan yang tidak adil.
Jadi, apakah anarkisme itu selalu berantakan dan chaos? Tentu saja tidak. Memang benar bahwa anarkisme menolak negara dan sistem pemerintahan yang ada, tapi tujuannya bukan untuk menciptakan kekacauan. Sebaliknya, anarkisme ingin membangun tatanan yang lebih adil dan setara, di mana semua orang bisa hidup tanpa tekanan dari pihak yang berkuasa. Makanya, kalau kita lihat anarkisme dari sudut pandang yang lebih dalam, kita bisa memahami bahwa ini bukan soal merusak, tapi soal menciptakan dunia yang lebih bebas dari penindasan.
Mitos yang melekat tentang anarkisme mungkin karena kita belum terlalu familiar dengan konsep ini atau terlalu sering melihat berita negatif terkait simbol-simbol anarki. Tapi, kalau kita pelajari lebih dalam, anarkisme punya ide-ide menarik, terutama dalam melawan ketidakadilan di dunia modern.
[1] Berkman, Alexander. What is Communist Anarchism?. New York: Vanguard Press, 1929.
[2] Proudhon, Pierre-Joseph. What is Property? An Inquiry into the Principle of Right and of Government. Translated by Benjamin R. Tucker, New York: Dover Publications, 1970.
