Singkong, Jagung, dan Tempe Bukan Milik Kita
Gambar: Jagung (sumber: Citra’s Home Diary)
Singkong, Jagung, dan Tempe Bukan Milik Kita
Oleh: Adam Gusti M
Banyak orang berfikri, jika bangsa kita memiliki banyak makanan yang kita anggap sebagai "makanan tradisional" yang diwariskan dari nenek moyang. Namun, banyak dari makanan ini sebenarnya bukanlah makanan asli yang tumbuh di bumi Nusantara. Beberapa di antaranya diperkenalkan oleh pendatang dari berbagai belahan dunia, membawa serta kebudayaan dan tradisi kuliner mereka.
Salah satu contoh yang menarik adalah singkong, yang kini menjadi bagian penting dari diet sehari-hari kita. Tanaman ini, atau yang dikenal dalam nama ilmiahnya sebagai Manihot esculenta, pertama kali dibudidayakan oleh suku Maya di Yucatán, Meksiko. Singkong adalah tanaman umbi-umbian dari keluarga Euphorbiaceae yang berasal dari daerah tropis Amerika Latin. Kehadirannya di Nusantara tidak lepas dari peran para pendatang yang membawa tanaman ini sebagai sumber karbohidrat yang murah dan mudah diolah.
Contoh lain adalah jagung, yang sering kita temui sebagai salah satu bahan makanan pokok. Dalam bukunya yang berjudul "Perjalanan Panjang Tanaman Indonesia," Setijati D. Sastrapradja menyebutkan bahwa jagung bukanlah tanaman asli Indonesia. Jagung sebenarnya berasal dari Amerika Tengah, tepatnya dari Meksiko bagian selatan [1]. Temuan genetik dan kajian arkeologi menunjukkan bahwa jagung telah ada di sana jauh sebelum diperkenalkan ke tanah air kita.
Tidak hanya itu, bahkan makanan yang sering kita nikmati seperti tahu dan tempe juga memiliki unsur asing. Meskipun tahu dan tempe dianggap sebagai makanan khas Indonesia, kedelai sebagai bahan utama mereka bukanlah tanaman asli Indonesia. Kedelai, yang sekarang mudah ditemukan di pasar, berasal dari Tiongkok. Dalam sejarahnya, kedelai pertama kali ditemukan dalam buku Pen Ts'ao Kong Mu pada era Kekaisaran Sheng-Nung. Dengan demikian, dapat kita lihat bahwa banyak makanan yang kita anggap tradisional sebenarnya memiliki akar dari luar Nusantara [2].
Lantas, apa saja makanan asli yang benar-benar berasal dari bumi Nusantara? Sebelum kedatangan para pendatang, masyarakat Nusantara memiliki beragam makanan pokok yang beradaptasi dengan kondisi alam dan tradisi lokal masing-masing. Di wilayah timur seperti Maluku dan Papua, sagu menjadi makanan utama yang menjadi sumber karbohidrat. Sagu diolah dari batang pohon sagu, yang telah menjadi bagian penting dari pola makan masyarakat setempat.
Selain itu, ubi-ubian seperti ubi kayu, ubi jalar, dan talas juga merupakan sumber karbohidrat yang banyak dikonsumsi di berbagai daerah. Tanaman-tanaman ini tumbuh subur dan mudah dibudidayakan di banyak tempat. Di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, pati dari pohon aren dan enau menjadi bahan makanan pokok yang tak kalah penting.
Di beberapa daerah lainnya, seperti di Nusa Tenggara, biji-bijian seperti jewawut (millet) dan sorgum juga menjadi sumber karbohidrat yang diperkenalkan sebelum padi menjadi makanan pokok. Padi gogo, yang ditanam di lahan kering, sudah ada sebelum sistem irigasi sawah diperkenalkan. Selain itu, masyarakat Nusantara juga memanfaatkan buah-buahan liar, seperti durian dan rambutan, serta ikan dan hasil laut sebagai sumber protein yang penting.
Di daerah pedalaman, berburu hewan liar seperti babi hutan dan rusa, serta mengumpulkan hasil hutan, menjadi bagian penting dari pola makan sehari-hari. Umbi gadung yang banyak ditemukan di Jawa dan Nusa Tenggara juga menjadi sumber karbohidrat yang penting sebelum dominasi padi. Dengan demikian, walaupun banyak makanan kita berasal dari luar, Nusantara tetap memiliki kekayaan kuliner yang berakar dari tradisi lokal.
[1] Sastrapradja, S. D. 2012. Perjalanan Panjang Tanaman Indonesia. Penerbit.
[2] Pen Ts'ao Kong Mu (Tahun Terbit). Dalam K. R. Y. (Ed.), Materica Medica. Penerbit.
