Tendensi Negatif pada Keturunan Tionghoa di Indonesia

Adam Gus M

10/29/20243 min read

Dalam forum yang saya ikuti, pembahasan mengenai ketahanan nasional sering kali memunculkan narasi yang menempatkan orang Tionghoa sebagai "penjajah" di tanah air sendiri. Narasi ini biasanya dilandasi oleh asumsi bahwa keturunan Tionghoa menguasai sektor-sektor ekonomi, seperti memiliki banyak toko di pasar-pasar atau menghuni kawasan elit seperti Pantai Indah Kapuk (PIK) di Jakarta. Pandangan semacam ini tidak hanya menyudutkan satu kelompok etnis, tetapi juga mengabaikan sejarah panjang dan kontribusi penting yang telah diberikan oleh warga keturunan Tionghoa dalam pembangunan Indonesia, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun budaya.

Stigma dan Kambing Hitam

Sejak masa reformasi pada akhir 1990-an, stigma terhadap keturunan Tionghoa semakin menguat. Keturunan Tionghoa sering kali dijadikan kambing hitam atas masalah-masalah ekonomi yang dihadapi Indonesia, terutama oleh beberapa kelompok yang merasa terpinggirkan. Kesenjangan sosial dan ekonomi yang terjadi antara kelompok etnis ini dengan sebagian masyarakat "pribumi" sering kali diperbesar dan dieksploitasi oleh mereka yang mencari musuh untuk menyalahkan.

Istilah "orang Cina" sering digunakan dengan konotasi negatif, menciptakan citra yang tidak sesuai dengan realitas bahwa keturunan Tionghoa adalah bagian integral dari masyarakat Indonesia. Mereka lebih suka disebut sebagai keturunan Tionghoa karena selain lebih tepat, istilah ini menghormati identitas mereka sebagai warga negara yang telah lama tinggal dan berkontribusi di Indonesia. Sama seperti kelompok etnis lainnya, seperti keturunan Arab dan India yang juga memiliki peran penting dalam membangun negeri ini.

Sensitivitas yang Berbahaya

Penggunaan istilah yang merendahkan seperti "orang Cina" tidak hanya melukai perasaan komunitas keturunan Tionghoa, tetapi juga memperkuat stereotip yang berbahaya. Dalam banyak kasus, keturunan Tionghoa merasa terpinggirkan dan tidak dihargai, meskipun mereka telah memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai aspek kehidupan di Indonesia. Penyebutan yang bersifat diskriminatif ini menunjukkan betapa mendalamnya sensitivitas ini di kalangan masyarakat dan bagaimana sejarah konflik etnis masih membekas dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia.

Jika sensitivitas semacam ini terus dibiarkan tanpa penanganan, hal ini bisa memicu ketegangan antar kelompok etnis yang dapat merusak persatuan dan keharmonisan di dalam negeri. Ironisnya, meskipun keturunan Tionghoa sering kali menjadi target diskriminasi, mereka tetap berkomitmen untuk menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, hidup berdampingan, dan membangun negara ini bersama-sama [1].

Sejarah Panjang dan Kontribusi Keturunan Tionghoa

Untuk memahami situasi ini lebih dalam, penting bagi kita untuk meninjau kembali sejarah kehadiran keturunan Tionghoa di Indonesia. Orang-orang Tionghoa pertama kali datang ke Nusantara pada abad ke-7 untuk berdagang. Sejak saat itu, mereka telah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia dan turut serta dalam perkembangan ekonomi serta sosial bangsa [2]. Di era kolonial, keturunan Tionghoa juga berperan penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, meskipun sering kali tidak diakui dalam buku-buku sejarah resmi.

Keturunan Tionghoa di Indonesia tidak hanya berperan penting dalam sektor ekonomi, tetapi juga memberikan kontribusi besar di bidang pendidikan, seni, olahraga, dan kebudayaan. Di bidang pendidikan, mereka telah mendirikan banyak lembaga yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia. Tokoh-tokoh seperti Lie Eng Hok, yang turut memperjuangkan pendidikan untuk keturunan Tionghoa pada masa penjajahan, serta Kwik Kian Gie, ekonom terkemuka dan mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, telah berperan besar dalam memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Peran mereka menunjukkan bahwa komunitas Tionghoa memiliki pengaruh yang signifikan dalam mencerdaskan bangsa dan memperkaya dunia pendidikan.

Selain itu, di dunia seni dan olahraga, keturunan Tionghoa juga telah mengharumkan nama Indonesia di kancah nasional dan internasional. Tokoh seperti Teguh Karya, yang dianggap sebagai salah satu sutradara film legendaris, telah memberikan kontribusi penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Di bidang olahraga, Susi Susanti dan Rudy Hartono, dua atlet bulu tangkis legendaris, telah membawa Indonesia meraih prestasi internasional. Karya dan prestasi para tokoh ini membuktikan bahwa keturunan Tionghoa tidak hanya memperkaya budaya nasional, tetapi juga membantu membangun citra positif Indonesia di mata dunia.

Budaya Tionghoa yang Melekat dalam Kehidupan Sehari-hari di Indonesia

Salah satu aspek yang sering kali terlupakan adalah bagaimana budaya Tionghoa telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kita mungkin tidak menyadari bahwa banyak elemen budaya yang kita nikmati saat ini berasal dari tradisi Tionghoa yang sudah berbaur dengan budaya lokal. Makanan seperti bakso, siomay, dan mie merupakan hasil pengaruh Tionghoa yang telah berasimilasi dengan budaya kuliner Indonesia. Selain itu, tahu dan tempe, dua makanan pokok yang sangat populer di Indonesia, menggunakan kedelai yang dibawa oleh para imigran Tionghoa.

Selain makanan, beberapa kebiasaan dalam perayaan tradisional juga terinspirasi dari budaya Tionghoa. Misalnya, perayaan Imlek yang kini diakui sebagai salah satu perayaan nasional menunjukkan betapa budaya Tionghoa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak hanya itu, beberapa unsur arsitektur di kota-kota besar juga mencerminkan perpaduan antara budaya Tionghoa dan arsitektur lokal, menambah kekayaan visual dan sejarah kota-kota di Indonesia [3].

[1] Prayitno, A. & Wahyuni, R. (2018). "Diskriminasi dan Marginalisasi Etnis Tionghoa Pasca Reformasi."Jurnal Sosiologi Indonesia, 17(2), 23-38.

[2] Setiawan, H. (2019). "Keterlibatan Etnis Tionghoa dalam Pembangunan Ekonomi Indonesia."Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia*, 10(1), 45-60.

[3] Suryadinata, L. (2020). "Peran Budaya Tionghoa dalam Pembentukan Identitas Nasional Indonesia."Jurnal Kebudayaan Indonesia, 12(3), 115-130.