Teori Idols Francis Bacon dalam melihat Pengkultusan Tokoh

12/19/20242 min read

Oleh: Marco Ferdi Pratama

Fenomena pengkultusan bukan sesuatu yang asing bagi peradaban manusia. Kultus berarti suci, sakral, dewa atau tak ternodai, seolah apa yang dikatakan sebagai kultus itu semestinya diikuti dan dijadikan teladan bagi seseorang. Manusia sering kali mengkultuskan sesuatu mulai dari manusia lain, benda bahkan sesuatu yang tidak nampak sekalipun dianggap kultus. Fenomena ini masih terjadi pada masa saat ini, penulis pikir bahwa fenomena itu akan sirna seiring dengan perkembangan teknologi dan pemikiran manusia yang semakin kompleks dan rumit. Perbincangan hingga perdebatan sesuatu yang kultus dari padangan tiap-tiap orang mewarnai peradaban manusia. Pengkultusan terbut memperlihatkan seseorang terperangkap dan menikmati penokohan tersebut karena yang ditokohkan tersebut sebagai sosok idola. Berbicara mengenai idola, tidak lepas dari pemikiran Francis Bacon yang telah memberikan pandangannya mengenai arti idola itu sendiri. Lalu bagaimana Bacon melihat fenomena pengkulutsan atau melihat seseorang itu terjebak dalam narasi idola pada tokoh tertentu.

Sosok Francis Bacon

Francis Bacon, seorang filsuf dan ilmuwan Inggris, dikenal dengan pemikirannya yang mendalam mengenai pengetahuan dan metode ilmiah. Dalam karyanya, Bacon mengidentifikasi empat jenis "idola" yang menjadi penghalang bagi manusia dalam mencapai pengetahuan sejati. Pengkultusan tokoh merupakan salah satu dari sekian banyak dalam mencapai pengetahuan sejati atau membatalkan pengetahuan sejati. Analisis ini akan membahas bagaimana pengkultusan terhadap tokoh dapat dilihat melalui lensa idola-idola ini, terutama dalam konteks penokohan yang berlebihan.

Idols of the Tribe

Idols of the Tribe merujuk pada kecenderungan manusia untuk melihat dunia berdasarkan pengalaman dan prasangka pribadi. Dalam konteks pengkultusan tokoh, hal ini terlihat ketika individu atau kelompok mengagungkan seorang tokoh tanpa mempertimbangkan kekurangan atau kesalahan yang mungkin dimiliki oleh tokoh tersebut. Misalnya, pengkultusan terhadap pemimpin politik atau spiritual sering kali menyebabkan pengikutnya mengabaikan kritik yang valid dan hanya menerima pandangan yang mendukung idolanya. Hal ini menciptakan bias yang menghalangi pemikiran kritis dan objektivitas.

Idols of the Cave

Idols of the Cave menggambarkan bagaimana pengalaman pribadi, pendidikan, dan lingkungan memengaruhi cara seseorang memahami dunia. Dalam pengkultusan tokoh, hal ini dapat dilihat ketika individu terjebak dalam pandangan sempit yang dipengaruhi oleh latar belakang mereka sendiri. Misalnya, seorang pengagum mungkin hanya melihat sisi positif dari tokoh idolanya karena terpengaruh oleh nilai-nilai atau keyakinan yang telah ditanamkan sejak lama. Ini dapat menyebabkan distorsi dalam penilaian terhadap tindakan dan kebijakan tokoh tersebut.

Idols of the Marketplace

Idols of the Marketplace berkaitan dengan kekeliruan yang muncul dari penggunaan bahasa yang ambigu dan tidak tepat. Dalam konteks pengkultusan tokoh, istilah dan narasi yang digunakan untuk menggambarkan seorang tokoh sering kali disusun sedemikian rupa untuk memperkuat citra positifnya. Misalnya, penggunaan istilah seperti "jenius" atau "pemimpin visioner" tanpa kritik yang seimbang dapat menciptakan gambaran idealis tentang seorang tokoh, mengabaikan aspek-aspek negatif atau kontroversial dari tindakan mereka.

Idols of the Theatre

Idols of the Theatre mencakup dogma filosofis dan sistem pemikiran yang keliru. Dalam pengkultusan tokoh, ini dapat dilihat pada bagaimana ideologi tertentu dapat membentuk cara pandang terhadap seorang tokoh. Ketika masyarakat terjebak dalam narasi yang telah ditentukan oleh tradisi atau ideologi tertentu, mereka cenderung untuk menerima pandangan tersebut tanpa mempertanyakan kebenarannya. Hal ini berpotensi untuk menciptakan kultus di sekitar seorang tokoh, di mana kritik dianggap sebagai serangan terhadap ideologi itu sendiri.

Bacon melihat, Pengkultusan terhadap seorang tokoh sering kali dipengaruhi oleh berbagai jenis idola yang diidentifikasi oleh Francis Bacon. Dengan memahami idola-idola ini, kita dapat lebih kritis dalam menilai figur publik dan mencegah diri kita terjebak dalam bias yang merugikan. Penghormatan kepada tokoh harus disertai dengan kesadaran akan kompleksitas manusia sebagai individu yang tidak sempurna. Dengan demikian, kita dapat menghargai kontribusi mereka tanpa kehilangan objektivitas dalam penilaian kita.

Sumber:

Yeni Setianingsih. (2019). Induktivisme-Empirisisme Francis Bacon dan Relevansinya Bagi Ilmu-ilmu Keagamaan. Indonesia Journal of Islamic Theology and Philosophy. Vol. 1 No. 2 hlm. 167.